Monday, 13 October 2014

Kisah Imam Ghazaly rahimahulah.


Cinta Imam Ghazali Untuk Lalat

Jika disebutkan nama Imam al-Ghazali maka gambaran yang muncul adalah sosok ulama abad pertengahan dengan reputasi kealiman yang tak diragukan. Ia termasuk cendekiawan muslim yang komplet.

Wawasannya tak berhenti pada soal teks-teks agama yang rumit. Tokoh bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'I ini menguasai disiplin filsafat dan menaruh prioritas pada olah rohani sebagai seorang sufi yang taat.

Para kritikus al-Ghazali bisa saja berseberangan dengan beberapa pikirannya. Namun, mereka tak dapat membantah kepribadian hujjatul islam ini yang zuhud, wara’, serta amat tekun menjalankan ibadah.

Kesungguhannya dalam beribadah tampak pula pada beberapa karyanya yang sarat anjuran melaksanakan amalan-amalan tertentu sebagai sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pengabdian tulus seorang hamba. Kitab tasawuf dasar, Bidayatul Hidayah, yang dikarangnya pun mengungkapkan kenyataan ini.

Hanya saja, terselip kisah unik di balik totalitas Imam al-Ghazali dalam beragama pasca-kewafatannya. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad menulis cerita seseorang yang berjumpa Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi. “Bagaimana Allah memperlakukanmu?” tanya orang tersebut.

Imam al-Ghazali mengisahkan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menimpali dengan menyebut satu per satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.

“Aku (Allah) menolak itu semua!” Ternyata Allah menampik berbagai amalan Imam al-Ghazali kecuali satu kebaikannya ketika bertemu dengan seekor lalat.

Suatu saat Imam al-Ghazali tengah sibuk menulis kitab hingga seekor lalat mengusiknya barang sejenak. Lalat “usil” ini haus dan tinta di depan mata menjadi sasaran minumnya. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu.

“Masuklah bersama hamba-Ku ke sorga,” kata Allah kepada Imam al-Ghazali dalam kisah mimpi itu.

Hikayat ini mengandung pesan tentang betapa dahsyatnya pengaruh hati yang bersih dari egoisme, semata untuk kepentingan diri sendiri. Kasih sayang Imam al-Ghazali yang luas, bahkan kepada seekor lalat pun, membawa tokoh dengan jutaan pengikut ini pada kemuliaan

Peristiwa ini secara samar menampar sebagian kalangan yang kerap membanggakan capaian-capaian keberagamaannya. Karena ternyata penilaian ibadah manusia sepenuhnya milik-Nya, bukan milik manusia. Tak ada ruang bagi manusia menghakimi kualitas diri sendiri ataupun orang lain. Segenap prestasi ibadah dan kebenaran agama yang disombongkan bisa jadi justru berbuah kenistaan.

Imam al-Ghazali sesungguhnya hanya mempraktikkan apa yang diteladankan dan diperintahkan Nabi, “Irhamu man fil ardli yarhamkum man fis sama’. Sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.

Sumber: Nu Online

Friday, 27 December 2013

DOWNLOAD RANCANGAN PENGAJARAN TAHUNAN PENDIDIKAN ISLAM TAHUN 4 (2014)





Sunday, 10 February 2013

SAMBUTAN MAULIDUR RASUL 1434H/2013
















INGIN DI DOAKAN MALAIKAT ?? INI AMALANNYA




Kalau Ingin Didoakan Para Malaikat Lakukanlah Amal Sholeh Yang Ini.

1.. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan
dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang
tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si
fulan karena tidur dalam keadaan suci’” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2.. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra.,
bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

3.. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu
Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan”
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4.. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5.. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al
Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

6.. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’”
(Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7.. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit)

sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8.. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

9.. Orang-orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’”
(Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10.. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur”
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11.. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”
(Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12.. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”
(dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Tuesday, 15 January 2013

SALASILAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW

JOM HAFAZ SALASILAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW:

1. MUHAMMAD BIN
2. ABDULLAH BIN
3. ABDUL MUTALIB BIN
4. HASHIM BIN
5. ABDUL MANAF BIN
6. QUSAI BIN
7. KILAB BIN
8. MURRAH BIN
9. KA'AB BIN
10. LUAI BIN
11. GHALIB BIN
12. FAHR BIN
13. MALIK BIN
14. AL-NADHAR BIN
15. KINANAH BIN
16. KHUZAIMAH BIN
17. MUDRIKAH BIN
18. ILIAS BIN
19. MUDHAR BIN
20. NIZAR BIN
21. MA'AD BIN
22. ADNAN

Monday, 14 January 2013

HUKUM MENGHAFAZ AL-QURAN


114 surah, 30 juzuk, 604 muka surat dan 6236 ayat, itulah mushaf al-Quran yang ada pada tangan kita. ia merupakan satu-satunya kitab atau buku di dunia ini yang dihafaz secara keseluruhan. Inilah keistimewaan yang dikurniakan kepada al-Quran dan umat Nabi Muhammad SAW serta kepada penghafaz-penghafaz al-Quran. Ia merupakan satu nikmat yang sukar untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Sekiranya dibandingkan dengan buku-buku lain yang sama tebal dengan saiznya, maka terlalu sukar dihafaz, bahkan tidak keterlaluan sekiranya dikatakan bahawa mustahil untuk dihafaz satu buku, setengah buku atau pun 1/4 daripada buku tersebut.






Terdapat banyak ayat al-Quran yang diturunkan, menggalakkan umat Islam untuk membaca dan menghafaznya. Bahkan disediakan bagi mereka ganjaran pahala yang terlalu lumayan kepada penghafaz al-Quran yang beramal dengannya. Namun tidak terdapat satu ayat yang secara jelas mewajibkan umat Islam menghafaz al-Quran secara keseluruhannya. Oleh yang demikian menghafaz al-Quran bukanlah sesuatu yang wajib ke atas SETIAP MUSLIM.

Walau bagaimanapun memandangkan betapa pentingnya menghafaz al-Quran demi menjamin keaslian dan keabsahan al-Quran ini, maka para ulama bersepakat untuk menyatakan bahawa menghafaz al-Quran itu hukumnya FARDHU KIFAYAH. Hal demikian dinyatakan oleh Imam Badr al-Din Muhammad bin 'Abdillah al-Zarkasyi di dalam kitabnyan (al-Burhan fi al-'Ulum al-Quran):

"Mempelajari al-Quran hukumnya adalah fardhu kifayah, demikian juga memeliharanya (iaitu menghafaznya) maka ia juga wajib (kifayah) bagi setiap umat".




Demikian juga yang dipertahankan oleh Dr. Mustafa Murad di dalam (Kaifa Tahfaz al-Quran) :

    "Menghafaz al-Quran al-Karim adalah fardhu kifayah, ini bermakna apabila segolongan daripada kaum muslimin menghafaz al-Quran, maka gugurlah dosa terhadap kaum Muslin yang lainnya. Namun sekiranya tidak terdapat segolongan muslimin yang menghafaznya, maka diwajibkan ke atas setiap muslimin kesemuanya untuk menghafaznya".

Dalam kitab al-Itqan fi ulum al-Quran pula,  Imam Jalaluddin as-Sayuti bukan sahaja menyatakan pendiriannya, malah beliau turut membentangkan pendirian para ulama yang lain:" ketahuilah bahawa menghafaz al-Quran merupakan fardhu kifayah ke atas umat Islam.

Perkara ini telah dijelaskan oleh Imam al-Jurjani dalam (al-Syafi') dan (al-Ibadyy) serta yang alin-lainnya. Imam al-Juwaini berkata: "Ini bermakna hafazan al-Quran ini agar tidak terputus bilangan mutawatir pada al-Quran, maka tidaklah ia terjebak ke lembah penukaran dan penyelewengan al-Quran.

Thursday, 10 January 2013

(AL-QURAN) TIGA PERINGKAT HAFAZAN DAN PENGJAGAANNYA

PERINGKAT PERTAMA: PEMELIHARAAN AL-QURAN DI LANGIT

Keistimewaan al-Quran inilah yang membezakan al-Quran dengan kitab atau buku-buku yang lain yang terdapat di dunia ini. Al-Quran yang merupakan kalamullah yang qadim dikurniakan dengan penjagaan dan pemeliharaan sejak ia berada dilangit lagi. Untuk memperkuatkan lagi kesaksian ini, maka Allah SWT bersumpah atas hakikat ini dengan sumpah yang agung. Sumpah ini dipaparkan melalui firmannya:

(SURAH AL-WAQIAH 56: AYAT 75-80)


PERINGKAT KEDUA: PEMELIHARAAN AL-QURAN DALAM PERJALANAN KEBUMI

Setelah proses pemeliharaan yang teliti terhadap al-Quran di langit, maka allah SWT turut memeliharanya tatkala dalam perjalanan menuju ke bumi. perkara ini dibuktikan apabila al-Quran yang mulia ini dibawa oleh roh-roh yang suci yang terdiri daripada malaikat. Manakala roh-roh jahat yang terdiri daripada syaitan akan dihalang daripada mendekati al-Quran. Bahkan tiada jalan sama sekali bagi roh-roh jahat mendekatinya dan ia sama sekali tidak akan sampai kepada syaitan.

Allah SWT berfirman:




Walaupun syaitan cuba juga untuk mencuri dengar perkhabaran dari langit ini, maka Allah SWT memeliharanya dengan penjagaan yang rapi yang terdiri daripada malaikat. Bahkan lontaran api akan menghalang sesiapa sahaja yang cuba memasang telinga untuk mendengar berita dari langit. Jaminan penjagaan ini dimeteraikan melalui firmannya:



Bahkan jaminan daripada Allah SWT ini, diakui sendiri oleh para jin yang cuba mencari berita dari langit. Mereka menyatakan:


PERINGKAT KETIGA: PEMELIHARAAN AL-QURAN DI MUKA BUMI

Di bumi inilah kebanyakan kitab samawi yang pernah diturunkan kepada para rasul terdahulu sebelum nabi Muhammad SAW gagal mempertahakan keaslian dan keabsahan isi dan kandungan kitabnya. mengapa hal demikian berlaku.

Sesungguhnya kitab terdahulu tidak mendapat jaminan pemeliharaan daripada Allah SWT. Jaminan pemeliharaan daripada sebarang penyelewengan yang akan berlaku pada masa mendatang. Namun sebaliknya al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan yang istimewa daripada Allah SWT, maka al-Quran tetap terus dipelihara daripada segenap segi dan keadaan.

Bahkan al-Quran mencabar musuh-musuh Islam agar menunjukkan bukti sekiranya mereka menuduh di dalam al-Quran terdapat penyelewengan atau kepalsuan.  Natijahnya, mereka tetap gagal untuk membuktikan sehingga ke hari ini. Bahkan kita berkeyakinan bahawasanya mereka tidak akan berjaya untuk membuktikan buat selamanya-lamanya.

Tidak dapat disangkal bahawa manusia pertama yang bertungkus-lumus memelihara al-Quran di bumi ini ialah Rasulullah SAW. Baginda adalah manusia pertama yang menghafaz keseluruhan al-Quran dalam ingatannya dengan penuh mantap. Sejak bermula detik pertemuan pertama dengan malaikat jibril a.s. dan pada pertemuan yang seterusnya, baginda menerimanya dengan penuh kesungguhan, menghafaznya dengan hafazan yang terbaik, melaksanakan tuntutannya dengan pelaksanaan yang sempurna. Seterusnya, menyampaikannya dengan kaedah penyampaian yang menyuntik hati yang mendengarnya.

Perkara ini dapar kita saksikan sendidri bagaimana kesungguhan rasulullah SAW menerima wahyu sehinggakan kesungguhannya ditegur oleh Allah SWT.





Demikian juga dalam surah al-Qiyamah:




Disebalik ayat ini, rasulullah SAW ditegur pada peringkat awal penurunan wahyu kerana sentiasa menggerakkan lidahnya mengulangi ayat-ayat al-Quran walaupun malaikat Jibril a.s. menghabiskan bacaannya.

Prof. Dr. Hamka menyatakan dalam tafsirnya (tafsir al-Azhar), bahawa dengan empat ayat ini 16-19 tuhan mengajarkan kepada nabi kita bagaimana cara baginda menerima al-Quran apabila wahyu itu dibawa oleh malaikat Jibril a.s. terdapat kitab-kitab tafsir yang menceritakan keadaan nabi SAW tatkala Jibril a.s. datang menemuinya dengan membawa wahyu.


Apabila Jibril a.s. membaca pangkal wahyu itu, lalu baginda pun menggerakkan lidah meniru bacaan itu. Maka di dalam ayat ini diajarkan oleh tuhan, jika malaikat itu datang membaca wahyu, baginda hendaklah dengarkan terlebih dahulu baik-baik.Dengan tidak perlu baginda ikuti sebelum wahyu selesai dengan ucapan lidahnya. setelah selesai malaikat membacanya, barulah boleh baginda mengikuti sepanjang bacaan Jibril a.s. itu. Sehingga bacaan al-Quran itu benar-benar asli sepertimana yang diterima daripada Jibril a.s. dan Jibril a.s. menerima daripada Allah SWT.

Demikian betapa bersungguhnya rasulullah SAW dalam mempelajari dan menghafaz al-Quran. Baginda melakukannya dengan penuh kecintaan dan keinginan yang tinggi terhadap al-Quran. Kesungguhan ini digambarkan oleh Syeikh Manna' al-Qattan sebagaimana berikut:

"Sesungguhnya Rasulullah SAW amat menggemari wahyu, Baginda sentiasa menunggu penurunan wahyu dengan perasaan yang rindu. Maka baginda menghafaz dan memahaminya. Hal demikian bagi membenarkan janji Allah SWT. Sesungguhnya kamilah yang berkuasa mengumpulkan al-Quran itu (dalam dadamu), dan menetapkan bacaannya (pada lidahmu).

Oleh yang demikian, baginda merupakan orang yang pertama menghafaz al-Quran dan menjadi contoh terbaik untuk para sahabatnya dalam menghafaz al-Quran untuk merealisasikan kecintaan mereka pada agama dan sumber risalah. Al-Quran turun dalam tempoh 20 tahun. Kadang-kadang diturunkan satu ayat sahaja, dan kadang-kadang turun sehingga sepuluh ayat. semua ayat yang diturunkan ini dihafaz dalam dada mereka dan disuburkan di hati mereka.

Wednesday, 9 January 2013

KEMAMPUAN OTAK MANUSIA


Kemampuan otak manusia yang mempunyai 125.5 tilion kapasiti simpanan maklumat dibandingkan dengan kapasiti simpanan oleh material lain seperti buku (1.3 juta), disket (2.5 juta) ensiklopedia britanica (12.5 billion) dan yang hampir dengan kapasiti otak manusia hanyalah sekitar 12.5 trilion. perkara ini dinyatakan oleh arkib negara amerika syarikat. alangkah takjubnya penciptaan otak manusia. bahkan pada pendapat penulis otak (akal) manusia yang diciptakan oleh Allah ini adalah tidak terkira dan terhitung kehebatannya.

      Namun sayangnya kita hanya menggunakan terlalu sedikit kemampuan otak yang dikurniakan allah SWT kepada kita. Menurut kajian sains, secara puratanya manusia hanya menggunakan kira-kira 1 peratus sahaja daripada kemampuan sebenar otak manusia.
     
      Maka tanda penghargaan kita kepada Allah SWT di atas anugerah otak yang penuh ketakjuban dan kesempurnaan ini, maka sewajarnya kita mengsyukurinya. Tanda mengsyukurinya mengisi dan manfaatkan otak dengan menghafaz al-Quran. Mengingati kalam bicara Allah SWT. alangkah gembirnya Allah SWT melihat kita memanfaatkan anugerah ini dengan menghafaz dan mengingati al-Quran yang diturunkannya.

"MARILAH KITA BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM MENGHAFAZ AL-QURAN"

"TIADA SEDIKIT KERUGIAN PUN, BAHKAN MANFAATNYA DI DUNIA DAN DI AKHIRAT"

       

Monday, 24 December 2012

PAS Dan UMNO Bersaudara Dalam Agama


PAS DAN UMNO BERSAUDARA DALAM AGAMA
Prof Madya Dato’ Dr Mohd Asri Zainul Abidin
(sertai facebook DrMAZA.com dan twitter realDrMAZA)
UMNO dan PAS tidak perlu berhenti bersaing jika persaingan mereka itu bertujuan menawarkan khidmat yang lebih baik kepada rakyat. Persaingan untuk memberikan khidmat adalah persaingan yang sihat dan memberikan kebaikan untuk negara. Tidakkah kita lihat bahawa kewujudan persaingan di pasaran membolehkan orangramai mendapat barangan yang lebih berkualiti. Sementara monopoli tanpa saingan akan merosakkan kualiti khidmat dan merugikan orang awam.
Persaingan PAS dan UMNO jika atas dasar ingin menawarkan khidmat yang lebih baik, bukan kerana dendam dan permusuhan yang lahir dari politik kepuakan, akan memakmurkan masyarakat muslim secara khusus dan negara secara amnya. Jika persaingan itu atas slogan yang Allah firman (maksudnya) “Bersegeralah kepada kebaikan”(Surah al-Maidah, 48) maka ia menjadi pahala kebajikan untuk semua pihak yang terlibat.
Saingan Politik
Seperti yang selalu ditegaskan, pada asalnya, Islam tidak suka perasaan tamakkan jawatan tanpa sebab yang berasas yang Allah redha. Keinginan mendapatkan kedudukan politik untuk kepentingan diri atau sebagai kebanggaan adalah dilarang dalam agama ini. Ini jelas daripada hadis-hadis, antaranya sabda Nabi s.a.w:
“Kamu semua begitu bercita-cita terhadap jawatan kepimpinan, ianya akan menjadi penyesalan pada hari kiamat. Ianya sesuatu yang nikmat pada permulaannya tapi keburukan pada akhirnya” (Riwayat al-Bukhari).
Baginda juga pernah menasihati `Abd ar-Rahman bin Samurah:
“Wahai `Abd ar-Rahman! Jangan engkau meminta jawatan pemimpin. Sesungguhnya jika engkau diberikannya dengan permintaan maka engkau ditinggalkan (tidak ditolong). Sekiranya engkau diberikannya tanpa permintaan maka engkau dibantu” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Islam melihat kerakusan inginkan jawatan disebabkan perasaan sukakan kedudukan dan nama hanya akan menambahkan penyesalan di akhirat dan melemahkan jawatan itu sendiri. Namun dalam masa yang sama, seseorang boleh berusaha mendapatkan jawatan politik jika dia merasakan dia dapat memberikan khidmat yang lebih baik daripada orang lain. Ini seperti yang al-Quran ceritakan tentang permintaan Nabi Yusuf a.s : (maksudnya) Yusuf berkata:
“Jadikanlah aku mentadbir perbendaharaan hasil bumi (Mesir); sesungguhnya aku sedia menjaganya dengan sebaik-baiknya, lagi mengetahui cara mentadbirkannya. Dan demikianlah caranya, Kami tetapkan kedudukan Yusuf memegang kuasa di bumi Mesir; dia bebas tinggal di negeri itu di mana sahaja yang disukainya. Kami limpahkan rahmat Kami kepada sesiapa sahaja yang Kami kehendaki, dan Kami tidak menghilangkan balasan baik orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Surah Yusuf, 55-56).
Kata Ibn Taimiyyah rh (meninggal 728H):
“Nabi Yusuf meminta jawatan kepimpinan untuk kebaikan agama, itu bukan sesuatu yang menyanggahi pergantungan kepada Allah, tidak juga termasuk dalam pemintaan jawatan yang dilarang” (Ibn Taimiyyah, Majmu’ah al-Fatawa, 8/68, Riyadh: Maktabah al-Abikan)
Kata al-Imam al-Qurtubi (meninggal 671H) mengulas ayat ini:
“..demikian juga hukumnya pada hari ini. Sekiranya seseorang insan tahu mengenai dirinya, bahawa dia dapat menegakkan kebenaran dalam kehakiman dan hisbah, sementara tiada seorang pun yang sesuai dan setanding dengannya maka jawatan itu fardu `ain ke atas dirinya. Wajib dia mengendali dan memintanya. Dia juga hendaklah memberitahu sifat-sifat yang melayakkannya iaitu ilmunya, kemampuannya dan lain-lain” (Tafsir al-Qurtubi, 9/21, Beirut: Dar al-Fikr).
Saling Memerlukan
Persaingan PAS dan UMNO adalah sesuatu yang baik jika mengujudkan keadaan ‘check and balance’ antara penguasa dan rakyat. Ia akan menghidupkan suasana amar makruf dan nahy munkar (promoting good and forbidding evil). Tindakan pemerintah akan diteliti oleh pembangkang dan tindakan pembangkang adalah mewakili kemaslahatan rakyat. Maka wujudlah pemerintah yang berkualiti dan pembangkang yang bermanfaat. Keduanya membawa kebaikan kepada rakyat dan keduanya berlumba-lumba untuk mencari pahala dalam lapangan politik.

Saya masih ingat, pernah semasa saya berbual bersendirian dengan Tun Abdullah Badawi di London, beliau menyebut: “UMNO memerlukan PAS. Kewujudan PAS menjadikan UMNO sentiasa beringat dengan tindakan mereka. Tanpa PAS, UMNO akan terlupa dan tidak berhati-hati terutama berkaitan Islam”. Saya percaya itu ucapan yang bukan atas kepentingan politik. Dalam persada politik Malaysia, menghapuskan persaingan antara PAS dan UMNO bukan sesuatu yang baik untuk rakyat dan umat. Bahkan itu boleh menjurus ke arah monopoli, kerakusan, bertambah berleluasanya rasuah, hilangnya sifat berhati-hati dalam tindakan dan pelbagai lagi.
Apa Yang Perlu Dihapuskan?
Malangnya, hal ini kadang-kala tidak berlaku. Persaingan politik dikendalikan atas kepentingan diri ataupun puak, bukan untuk kepentingan rakyat lagi. Perlumbaan melakukan kebaikan itu dipadamkan oleh banyaknya perlumbaan menghapuskan pesaing politik. Berlakunya manipulasi isu dari kedua belah pihak. Kedua pihak akhirnya menerima padah; maruah dan nilai tercemar. Kelantan yang dikuasai PAS telah menjadi mangsa buli sekian lamanya. Hal yang sebaliknya juga berlaku apabila segala tindakan pemimpin UMNO jarang dinilai positif oleh PAS. Politik prasangka memenuhi ruang. Kerakusan kuasa dan harta meruncingkan lagi permusuhan itu.
Persaingan yang bertujuan untuk menggalakkan kebaikan dan menghalang keburukan bertukar menjadi persaingan yang membawa keburukan dan menghalang kebaikan. Media kerajaan yang menggunakan wang rakyat hanya diberi ruang kepada satu pihak sahaja untuk mencerca pihak yang lain semahunya. Idea-idea politik dan pembangunan dari pihak yang bersaing tidak mendapat ruang yang adil dalam media kerajaan. Padahal, jika niat benar-benar untuk pembangunan rakyat, apa salahnya idea-idea baik itu didengari oleh rakyat dan dilaksanakan oleh pihak kerajaan sekalipun dari pembangkang. Namun itu tidak berlaku. Politik idea dibunuh oleh politik permusuhan puak dan peribadi. Dalam masa yang sama, ceramah dan ucapan pembangkang juga banyak yang bukan mengemukakan cadangan dan idea yang bernas, tetapi lebih kepada menyerang keburukan-keburukan peribadi pihak lain. Sedaya mampu hanya untuk mencari salah dan silap, sekalipun dalam perkara peribadi orang lain. Seakan mesejnya; ‘pilihlah kami, kerana mereka lebih buruk dari kami’. Sepatutnya, ‘pilihlah kami kerana kami dapat menawarkan servis yang lebih baik’.
Sikap dan pendekatan yang seperti ini patut dihapuskan. Sikap yang lebih rasional dan insaf perlu disuburkan.
Di Sebalik Lambang
Dalam UMNO dan PAS, ramai yang menilai pihak yang lain berdasarkan warna parti. Warna itu pula telah diberikan pelbagai persepsi permusuhan politik yang diapi-apikan oleh pelbagai keadaan dan pihak. Seakan, tiada lagi kebaikan yang boleh diharapkan di pihak yang satu lagi.
Hakikatnya, di sebalik nama dan lambang parti masing-masing, ahli-ahli PAS dan UMNO adalah muslim. Kehidupan ini bukan segalanya politik. Ya, ada muslim yang baik dan ada yang tidak mengamalkan agamanya. Sementara yang kuat beragama itu pula, bukan semestinya dia berjaya menghayati agama dalam setiap aspek. Setiap kita ada kelemahan dan kekurangan. Hal ini terpakai untuk semua orang tanpa mengira parti. Parti bukan agama. Parti mungkin berperanan dalam menggerakkan satu juzuk dari kehidupan bermasyarakat dalam negara ini. Orang PAS dan UMNO ada yang baik dan takutkan Allah. Ada yang cuba sedayanya mengamalkan agama apa yang mereka faham. Ada juga yang tidak pedulikan agama, ataupun mempergunakan agama. Berserban dan bersongkok bukan jaminan kebaikan untuk sentiasa dilakukan.
Bukan semua orang UMNO jahat, bukan semua orang PAS baik. Begitu juga sebaliknya. Mereka tidak lahir atas lambang parti. Mereka kebanyakan lahir sebagai orang muslim. Mereka mengakui Islam sebagai agama mereka. Allah menamakan mereka semua muslimin, sebelum mereka itu dikaitkan dengan nama parti mereka. Firman Allah: (maksudnya)
“dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. DIAlah yang memilih kamu (untuk mengerjakan suruhan agamaNya); dan DIA tidak menjadikan kamu menanggung kesusahan dalam agama, agama bapa kamu Ibrahim. Dia menamakan kamu: ‘muslimin’ semenjak dahulu dan di dalam (Al-Quran) ini, supaya Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi untuk kamu, dan supaya kamu pula menjadi saksi untuk umat manusia. Maka, dirikanlah solat, dan berilah zakat, serta berpegang teguhlah kamu kepada Allah! Dia lah Pelindung kamu. maka (Allah Yang demikian sifatnya) Dia lah sahaja sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik pemberi pertolongan. (Surah al-Hajj, 78).
Kita Bersaudara
Tidak menjadi masalah bersaing dalam politik. Tidak menjadi masalah juga bercita menukar kerajaan atau mengekalkannya. Namun, antara orang PAS dan UMNO, di sebalik tembok parti, mereka kena ingat mereka saudara seagama. Banyak perkara dalam kehidupan ini yang mereka berkongsi perkara yang sama. Mereka percaya pada Allah yang sama, Nabi yang sama, al-Quran yang sama dan seterusnya. Banyak perkara pokok dan asas yang mereka sama dibandingkan perkara yang mereka berbeza. Walaupun pada juzuk politik mereka berbeza, mereka wajib menghormati hak sebagai saudara muslim dalam kehidupan ini. Perbezaan parti tidak boleh menghalang mereka dalam masa yang sama untuk kasih saudara seagama. Tidak wajar menghalang mereka untuk duduk berbincang dan berpakat perkara yang mereka sama-sama imani. Tidak wajar menghalangi mereka memberi salam dengan jujur dan melahirkan ukhuwwah islamiyyah tanpa dikaitkan dengan soal perbezaan pendekatan politik.

Gambar Hiasan
Sesiapa yang bersahabat dengan kedua pihak, akan menemui kebaikan yang wujud di kedua belah pihak. Mungkin kita tidak setuju dengan lambang tertentu, namun dalam kehidupan bukan semua yang disandarkan dengan lambang tertentu itu sentiasa seiras dengan lambangnya. Sesiapa yang taklid buta dengan menganggap segala yang dibuat oleh partinya benar bererti dia telah memaksumkan partinya. Sesiapa yang mengikut dan bersetuju dengan segala yang baik dan buruk dalam partinya bererti dia bagaikan kaldai yang tidak mampu menilai.
Maka, apabila seorang muslim dari PAS atau UMNO menghulurkan tangan kepada saudaranya, janganlah dipentingkan sangat partinya, lihatlah keluasan hidup ini dan hak-hak muslim atas muslim yang lain yang tercatat dalam agama ini. Akidah merentasi parti. Sentiasalah kita ingat firman Allah: (maksudnya):
Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu semua sentiasa menjadi orang-orang yang menegakkan keadilan kerana Allah, lagi menerangkan kebenaran; dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan”. (Surah al-Maidah, 8)

RANCANGAN PENGAJARAN TAHUNAN PENDIDIKAN ISLAM TAHUN 3 2013 (KSSR)


RANCANGAN PENGAJARAN TAHUNAN TAHUN 3 PENDIDIKAN ISLAM

DOWNLOAD LINK DIBAWAH

RANCANGAN PENGAJARAN TAHUNAN BAHASA ARAB TAHUN 3 2013


RANCANGAN PENGAJARAN TAHUNAN BAHASA ARAB TAHUN 3 2013 (KSSR)

DOWNLOAD LINK DIBAWAH

Monday, 3 December 2012

Panduan Solat Qasar Dan Jama'

1. Solat Qasar
1.1. Takrifan Solat Qasar adalah mengqasarkan (memendekkan) solat yang empat rakaat iaitu Zuhur, Asar dan Isya’ kepada dua rakaat sementara solat Maghrib dan solat Subuh tidak boleh diqasarkan.
1.2. Hukum Qasar Harus berdasarkan kepada dalil berikut:
i. Al-Quran surah al-Nisa’ ayat 101 yang bermaksud; “Dan apabila kamu musafir di muka bumi, maka kamu tidaklah berdosa mengqasarkan (memendekkan) solat jika kamu takut diserang oleh orang kafir…”
ii. Al-Sunnah yang bermaksud; ‘Ya’la bin Umayyah pernah bertanya kepada Umar bin al- Khattab, “Kenapa kita perlu mengqasarkan solat sedangkan kita berada dalam keamanan?” Lalu beliau menjawab, “Aku telah bertanya kepada Nabi s.a.w., dan Baginda bersabda, solat qasar itu adalah sedekah yang Tuhan telah bersedekah kepadamu, maka terimalah sekalian kamu akan sedekah- Nya” (Riwayat al-Nasa’i dan Abu Daud)
1.3. Jarak Dibenarkan Qasar Dua marhalah iaitu empat burudin di mana setiap burudin mempunyai empat farsakh dan setiap farsakh terdiri daripada 5514 meter mengikut kiraan moden. Dari itu, dua marhalah adalah bersamaan 89 kilometer.
1.4. Syarat Solat Qasar
i. Hendaklah pelayaran atau perjalanan itu diharuskan oleh syara’.
ii. Jauh pelayaran atau perjalanan itu tidak kurang daripada dua marhalah (89 kilometer / 56 batu)
iii. Berniat qasar di dalam takbiratul ihram.
iv. Tidak berimam dengan orang yang solat tamam (sempurna)
v. Hendaklah solat yang diqasarkan itu terdiri dari solat empat rakaat.
1.5. Contoh Niat

أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا لله تعالى

(Sahaja aku solat fardhu Zuhur dua rakaat Qasar kerana Allah Taala)
2. Solat Jama’
2.1 Takrifan Solat Jama’ terbahagi kepada :
i. Jama’ Taqdim iaitu mengerjakan solat Zuhur dan solat Asar dalam waktu Zuhur atau solat Maghrib dan solat Isya’ dalam waktu Maghrib.
ii. Jama’ Ta’khir iaitu mengerjakan solat Zuhur dan solat Asar dalam waktu Asar atau solat Maghrib dan solat Isya’ dalam waktu Isya’.
2.2 Syarat Solat Jama’
2.2.1 Solat Jama’ Taqdim
i. Hendaklah bersolat secara tertib iaitu mendahulukan solat Zuhur daripada solat Asar dan solat Maghrib daripada solat Isya'.
ii. Hendaklah niat Jama’ Taqdim di dalam solat pertama sebelum salam tetapi yang afdhalnya di dalam takbiratul ihram.
iii. Berturut-turut di antara solat yang dijama’kan itu.
iv. Berkekalan pelayaran atau perjalanan itu hingga takbiratul ihram solat yang kedua.
v. Berkeyakinan adanya waktu solat yang pertama (Zuhur atau Maghrib) berkekalan sehingga didirikan solat yang kedua (Asar atau Isya’).
2.2.2 Solat Jama’ Ta’khir
i. Hendaklah berniat jama’ dalam waktu pertama iaitu Zuhur atau Maghrib.
ii. Berkekalan pelayaran atau perjalanan hingga memberi salam solat yang kedua.
2.3 Contoh Niat
2.3.1 Jama’ Taqdim
i. Jama’ Taqdim Empat Rakaat

أصلي فرض الظهر اربع ركعات مجموعا إليه العصر اداء لله تعالى

(Sahaja aku solat fardhu Zuhur empat rakaat dihimpunkan kepadanya Asar tunai kerana Allah Taala)
ii. Niat Jama’ Taqdim Beserta Qasar

أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إليه العصر اداء لله تعالى

(Sahaja aku solat fardhu Zuhur dua rakaat dihimpunkan kepadanya Asar tunai kerana Allah Taala)
2.3.2 Jama’ Ta’khir
i. Jama’ Ta’khir Empat Rakaat

أصلي فرض الظهر اربع ركعات مجموعا إلى العصر اداء لله تعالى

(Sahaja aku solat fardhu Zuhur empat rakaat dihimpunkan kepada Asar tunai kerana Allah)
ii. Niat Jama’ Ta’khir Beserta Qasar

أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إلى العصر اداء لله تعالى

(Sahaja aku solat fardhu Zuhur dua rakaat dihimpunkan kepada Asar tunai kerana Allah)

Bingkisan Perjalanan Buat Yang Demam ‘Kuasa’

BINGKISAN PERJALANAN BUAT YANG DEMAM ‘KUASA’
Prof Madya Dato’ Dr Mohd Asri Zainul Abidin
(sertai facebook DrMAZA.com dan twitter realDrMAZA)
Sekarang ini demam Pilihanraya ke-13. Ia dijangka pilihanraya yang benar-benar akan men’demam’kan samada BN ataupun PR. Maka sekarang parti-parti politik dalam negara kita sedang sibuk dan menyibukkan diri untuk menghadapi demam tersebut. Ucapan dan slogan politik kedengaran di sana-sini. Kuasa, kuasa, dan kuasa. Itulah mimpi sebahagian manusia politik. Saya tidak ingin mengulas pada minggu ini. Saya hanya ingin memetik pelbagai ucapan beberapa tokoh umat Islam berkaitan dengan perjuangan dan kepimpinan. Harapnya ia boleh menjadi bekalan dan renungan untuk semua pihak yang terbabit. Ia boleh menjadi koleksi dan koreksi untuk mereka yang merasa diri berada di medan perjuangan dan siasah.

Gambar Hiasan
Akur Kesilapan
Nabi Musa a.s berjuang menghadapi Firaun. Namun Nabi Musa a.s pernah membuat kesilapan sebelum menjadi rasul iaitu telah memukul seorang warga Mesir keturunan qibti sehingga mati. Semasa dialog antara Musa dan Firaun, Firaun mempertikaikan tindakan Musa a.s. tersebut. Nabi Musa a.s mengakui kesilapan tersebut, namun meneruskan perjuangan yang benar. Allah menceritakan hal ini dalam al-Quran dengan firmanNya: (maksudnya)
“Maka pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun, kemudian katakanlah kepadanya: “Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan sekalian alam. Menyuruhmu membebaskan kaum Bani Israil mengikut kami”. Firaun menjawab: “Bukankah kami telah memeliharamu dalam kalangan kami semasa engkau (Musa) kanak-kanak yang baru lahir, serta engkau telah tinggal dalam kalangan kami beberapa tahun dari umurmu? Dan (bukankah) engkau telah melakukan satu perbuatan (kesalahan) yang telah engkau lakukan dan (dengan itu) engkau dalam kalangan orang yang tidak mengenang budi?”
Nabi Musa berkata: “Aku melakukan perbuatan demikian sedangkan aku ketika itu dalam kalangan orang yang belum mendapat petunjuk. Lalu aku melarikan diri dari kamu, ketika aku merasa takut kepada kamu; kemudian Tuhanku mengurniakan daku ilmu pengetahuan, dan menjadikan daku seorang RasulNya. Adapun budimu memeliharaku yang engkau bangkit-bangkitkan itu adalah kerana engkau telah bertindak memperhambakan kaum Bani Israil.” (Surah al-Syu‘ara: 16-22).
Inilah sikap perjuang yang ikhlas dan benar!
Pohon Maaf dan Betulkan Kesilapan
Apabila fitnah berlaku di zaman pemerintahan Saidina ‘Uthman bin ‘Affan, beliau menulis surat kepada rakyat memohon kemaafan dan membuka ruang agar dibetulkan kesalahan pentadbiran. Beliau menyebut dalam suratnya:
“Aku mengambil pegawai-pegawaiku dengan persetujuanku pada setiap musim. Sejak aku memerintah, aku telah jadikan umat ini dikuasai oleh al-Amr bi al-Ma’ruf dan al-Nahy ‘an al-Munkar. Tidak dikemukakan suatu kes kepadaku atau kepada para pegawaiku melainkan aku berikan kepada mereka itu akan haknya. Tiada bagiku atau keluargaku hak yang menyentuh rakyat jelata melainkan ianya ditinggalkan untuk rakyat. Penduduk Madinah telah memaklumkan kepadaku bahawa ada golongan yang dicerca dan ada pula yang dipukul. Sesiapa yang dicerca ataupun dipukul secara sembunyi atau sesiapa yang mendakwa sesuatu, apabila cukup tempohnya maka ambillah kembali haknya di mana sahaja dia berada, daripadaku atau pegawaiku ataupun dia bersedekahlah (maafkanlah). Sesungguhnya Allah memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersedekah (memaafkan)”.
Apabila surat ini dibaca di setiap negeri maka rakyat jelata pun menangis dan mereka berkata: “Sesungguhnya telah bergerak di kalangan umat ini kejahatan” (Al-Tabari, Tarikh al-Tabari, jil. 4, hlm. 342) iaitu fitnah telah menular di tengah-tengah umat.
Maksud ‘Rakyat Didahulukan’
Jika kita ingin mendengar contoh rakyat didahulukan, maka bacalah Sirah ‘Umar bin al-Khattab ini: Ibn Jarir al-Tabari meriwayatkan bahawa ‘Umar bin al-Khattab tidak memakan pada tahun kemarau melanda Madinah lemak haiwan, susu dan daging sehingga orang ramai dapat memakannya. Barangan makanan berkurangan di pasar. Pada suatu hari pekerjanya dapat membeli untuknya lemak dan susu namun dengan harga yang agak tinggi. ‘Umar enggan makan bahkan berkata:
“Engkau telah menyebabkan lemak dan susu menjadi mahal, sedekahkan keduanya, aku bencikan pembaziran. Bagaimana aku dapat memahami keadaan rakyat jika tidak mengenaiku apa yang mengenai mereka?”. (Al-Tabari, 2/358, Beirut: Dar al-Fikr).
Juga diriwayatkan bahawa suatu hari pada tahun berkenaan disembelih unta lalu dimasak dan dibahagikan kepada orang ramai. Lalu diceduk masakan itu untuk dihidangkan juga buat ‘Umar. Tiba-tiba yang diceduk itu bahagian belakang unta dan hatinya. Lalu ‘Umar bertanya:
“Dari mana diperolehi ini?”. Daripada unta yang kita sembelih hari ini. Kata ‘Umar: “Oh! Alangkah buruknya aku ini sebagai pemimpin, jika aku memakan bahagiannya yang baik lalu aku berikan rakyat makan yang sisa” (Ibn Sa’d, al-Tabaqat al-Kubra, 3/312, Beirut: Dar Sadir).
Awasi Pengampu
Syaiban al-Ra‘i berkata kepada Harun al-Rasyid:
“Wahai Amir al-Mukminin, andainya engkau bersahabat dengan orang yang menjadikan engkau rasa takut sehingga engkau merasa aman lebih baik dari engkau bersahabat dengan orang yang menjadi engkau rasa aman sehingga menyebabkan engkau mendapat ketakutan”.
Tanya Harun al-Rasyid: “Jelaskan maksudnya untukku”. Jawab Syaiban: “Sesiapa yang berkata kepada engkau: “Engkau bertanggungjawab terhadap rakyatmu, takutlah Allah” lebih baik dari orang yang berkata “Kamu daripada kaum keluarga Nabi diampunkan dosa kamu, kamulah kerabat Nabi!”.
Maka menangislah Harun al-Rasyid sehingga mereka yang berada di sekelilingnya bersimpati kepadanya. Kata Syaiban lagi: “Wahai Amirul Mukminin, apabila saya bercakap, saya bimbangkan tindakan kamu terhadap saya. Jika saya diam, saya bimbangkan bahaya menimpa kamu. Maka saya utamakan kebimbangan bahaya menimba kamu lebih daripada kebimbangan tindakan kamu ke atas saya”. (Ibn Muflih, Al-Adab al-Syar‘iyyah, 1/198, Beirut: Muassasah al-Risalah).

Gambar Hiasan
Menyedari Bebanan Amanah
Khalifah Umar bin Abd al-Aziz apabila beliau dilantik menjadi khalifah, beliau seakan tergamam dan begitu hiba. Ketika para pembesar menanti kemunculannya setelah dilantik, mereka berbisik bertanya anaknya, mengapa ayahnya belum keluar ke khalayak ramai. Kata anaknya:
“Ayahku sejak dilantik, beliau terus bersendirian bersolat dan menangis. Apabila ibuku masuk kepadanya, airmatanya bercucuran hingga ke janggutnya. Apabila ditanya, dia berkata: “Wahai Fatimah! Aku telah dikalungkan urusan umat Muhammad ini yang berbagai bangsa. Maka aku terfikir tentang orang yang fakir, yang lapar, yang sakit lagi derita, orang biasa yang susah, orang yang dizalimi lagi dipaksa, tawanan perang yang jauh, orang tua yang uzur, orang yang mempunyai keluarga yang ramai sedangkan wangnya sedikit dan seumpama mereka yang berada di segala tempat dan penjuru negara. Aku tahu tuhanku akan bertanya aku mengenai mereka pada hari kiamat kelak. Aku bimbang alasanku tidak cukup kukuh untuk menjawabnya, lalu aku pun menangis” (lihat: Mahmud al-Baji, Muthul ‘Ulya min Qada al-Islam, 144).
Dalam Sifat al-Safwah karya Ibn al-Jauzi yang meriwayatkan bahawa ketika Khalifah Harun al-Rasyid menaiki Bukit Safa, seorang tokoh umat bernama ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Aziz al-‘Umari berkata kepadanya:
“Lihatlah ke arah Kaabah.” Harun al-Rasyid menjawab: “Aku sedang lihat.” Kata beliau lagi: “Berapa jumlah mereka yang kau lihat?” Jawab Harun: “Siapa yang mampu membilangnya.” Kata beliau pula: “Berapa jumlah manusia yang seperti mereka?” Jawab Harun: “Hanya Allah yang mampu menghitungnya.” Kata al-‘Umari lagi: “Ketahuilah engkau bahawa setiap mereka itu hanya akan ditanya pada hari kiamat tentang diri mereka sahaja, hanya engkau yang akan ditanya tentang diri mereka semua, maka hati-hatilah engkau tentang nasib engkau nanti.”
Maka terduduk dan menangislah Harun al-Rasyid mengenangkan masa depannya di akhirat kelak.
Menyedari Kemampuan Diri
Saidina ‘Umar bin al-Khattab r.a. pada usianya yang lanjut, ketika dia pulang dari menunai haji, beliau berdoa sambil mendongak ke langit dan mengangkat tangannya:
“Ya Allah! Sesungguhnya telah lanjut usiaku, telah rapuh tulang belulangku, bertambah ramai rakyatku, maka ambillah nyawaku sebelum aku mensia-sia tugas dan tanpa ditimpa fitnah”. Lalu tidak sampai sebulan selepas pulang ke Madinah beliau wafat dibunuh. Demikian Saidina ‘Ali bin Abi Talib r.a, walaupun usia belum lanjut, namun apabila rakyatnya kucar-kacir tidak mahu tenteram walaupun telah diusahakan, beliau meminta agar Allah merehatkannya dari kedegilan rakyatnya. Lalu beliau pun mati selepas itu. Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz apabila merasakan rakyat sudah tidak mampu mentaati keadilan dan kebenaran yang ditegakkannya, dia meminta daripada insan yang mustajab doanya ketika itu agar memohon Allah mengambil nyawanya. Lalu tidak lama kemudian dia pun meninggal. (lihat: Ibn Rajab, al-Jami’ al-Muntakhab, 103, Lebanon: Muassasah Fuad).
Banyak lagi ungkapan yang baik tentang kuasa dan jawatan untuk direnungi oleh mereka yang merinduinya. Saya petik sedikit daripadanya sebagai bingkisan buat yang lantang berbicara tentang keinginan kepada kuasa.

WASIAT RASULULLAH SAW KEPADA SAIDINA ALI

Wahai Ali, bagi orang mukmin itu ada tiga tanda iaitu,
tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia,
tidak terpesona dengan pujuk rayu,
benci terhadap perbualan dan perkataan sia-sia.

Wahai Ali, bagi orang alim itu ada tiga tanda iaitu,
jujur dalam berkata-kata,
menjauhi segala yang haram,
merendahkan diri.

Wahai Ali, bagi orang yang jujur itu ada tiga tanda iaitu,
merahsiakan ibadahnya,
merahsiakan sedekahnya,
merahsiakan ujian yang menimpanya.

Wahai Ali, bagi orang yang bertaqwa itu ada tiga tanda,
iaitu, takut berlaku dusta dan keji,
menjauhi kejahatan,
memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.

Wahai Ali, bagi ahli ibadah itu ada tiga tanda iaitu,
mengawasi dirinya,
menghisab dirinya,
memperbanyakkan ibadah kepada Allah taala.

Friday, 23 November 2012

HUDUD DAN BEBERAPA GAMBARAN SALAH


Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin
(sertai facebook DrMAZA.com dan twitter realDrMAZA)

Perbincangan ini menyambung artikel yang lepas tentang perlaksanaan hudud. Ramai orang salah sangka apabila membayangkan negara yang dipimpin berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah itu sebagai negara yang agenda utamanya mengintip dan menghukum rakyat yang tidak mematuhi syariat.

Gambaran negara yang islamik sebagai negara yang sibuk mencari pesalah untuk dihukum dengan undang-undang hudud adalah gambaran yang silap yang ada di fikiran sesetengah pihak yang kurang memahami Islam. Seperti yang saya jelaskan sebelum ini, hudud hanya makanisme untuk mengatasi jenayah-jenayah tertentu, bukan gambaran keseluruhan negara Islam, bahkan bukan hudud juga undang-undang yang merangkumi semua jenayah.

Banyak lagi jenayah yang tidak tersenarai di bawah hudud. Peratusan besar jenayah yang pelbagai, terutama di zaman ini berada di bawah takzir (discretionary punishment). Makanisme ini pula memerlukan suasana yang kondusif untuk perlaksanaannya.

Seseorang muslim apabila berbicara tentang pemerintahan dan tanggungjawab pemerintahan bukanlah membayangkan mekanisma mengatasi jenayah semata, tetapi membayang tanggungjawab keadilan dan kebajikan yang menjadi asas tersebarnya kebaikan dan keamanan dalam negara.
Justeru itu, Khalifah Umar bin Abd al-Aziz apabila beliau dilantik menjadi khalifah, beliau seakan tergamam dan begitu hiba. Beliau terus bersendirian bersolat dan menangis. Airmatanya bercucuran hingga ke janggutnya. Apabila isterinya Fatimah bertanya, dia berkata:
“Wahai Fatimah! Aku telah dikalungkan urusan umat Muhammad ini yang berbagai bangsa. Maka aku terfikir tentang orang fakir yang lapar, yang sakit lagi derita, orang yang tidak berpakaian yang susah, orang yang dizalimi lagi dipaksa, tawanan perang yang jauh, orang tua yang uzur, orang yang mempunyai keluarga yang ramai sedangkan hartanya sedikit dan seumpama mereka yang berada di segala tempat dan penjuru negara. Aku tahu tuhanku akan bertanya aku mengenai mereka pada hari kiamat kelak. Aku bimbang alasanku tidak cukup kukuh untuk menjawabnya, lalu aku pun menangis” (Al-Zahabi, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A’lam, 7/197. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi/1407H)
Demikianlah gambaran tanggungjawab pemerintahan yang ada dalam pemikiran beliau. Tanggungjawab menyebarkan kebajikan, pembahagian harta yang adil dan amanah serta kebaikan untuk rakyat di segenap lapisan masyarakat. Tanggungjawab inilah yang beliau takut dan bimbang Allah hukum beliau di akhirat kelak. Inilah asas kerahmatan dalam kepimpinan negara yang berdasarkan wahyu Allah. Tanggungjawab pemerintah di hadapan Allah tentang kebajikan rakyat lebih ditakuti dibandingkan di hadapan rakyat sendiri atau ‘suruhanjaya rasuah’.
Itulah gambaran negara yang sepatutnya berada dalam pemikiran umat Islam yang cintakan Islam. Para sarjana Islam telah lama memperkatakan hal ini. Muhammad bin Ka’ab al-Qurtubi apabila diminta oleh ‘Umar bin Abd al-Aziz untuk menyifatkan keadilan pemerintah, katanya:
“Jadilah engkau bapa kepada yang muda, anak kepada yang tua, saudara kepada yang sebaya. Demikian juga kepada wanita. Hukumlah manusia dengan kadar kesalahan dan kemampuan mereka. Jangan engkau pukul disebabkan kemarahanmu walaupun satu pukulan, nanti engkau termasuk dalam golongan yang melampau”.( Ibn Muflih, Al-Adab al-Syar‘iyyah, 1/202. Beirut: Muassasah ar-Risalah/1417H).

- Gambar Hiasan
Membezakan Jenis Jenayah
Dalam hudud ada dua jenis dosa yang dihukum; pertama; dosa yang membabitkan kesalahan individu dengan Allah S.W.T seperti berzina dan minum arak. Dosa bahagian ini lebih kepada merosakkan diri pelaku itu sendiri. Kedua; dosa yang merosakkan atau mengancam keselamatan masyarakat awam seperti merompak, merogol, mencuri, memberontak dan perkara yang berkaitan dengannya.
Dosa bahagian pertama Islam melarang kita melakukan tajassus ataupun intipan. Sementara dosa bahagian kedua, oleh kerana ia mengancam masyarakat dan fitnah lebih besar dari tajassus, maka intipan boleh dilakukan. Ini seperti yang disebut oleh al-Imam al-Syaukani (meninggal 1250H):
“Aku katakan; jika hanya semata-mata sangkaan maka tidak mencukupi dalam hal ini. Bahkan mestilah dengan pengetahuan, jika tidak ia termasuk dalam tajassus yang dilarang berdasarkan dalil al-Quran. Namun dibolehkan untuk suatu kemaslahatan yang mana membantah kemungkaran itu lebih kukuh dibandingkan meninggalkan tajassus dan kerosakan meninggalkan bantahan terhadap kemungkaran lebih dahsyat dari kerosakan tajassus. Atau mungkin boleh digabungkan bahawa pengharaman tajassus berkaitan dengan tanpa pengetahuan (sangkaan) kerana tidak dinamakan tajassus jika perlaksananya benar-benar mengetahui”. (Al-Syaukani, Al-Sail al-Jarar, 4/591 Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah/1405H)
Hudud Dan Hak Privasi
Ramai akan menganggap, apabila hudud dilaksanakan bererti privacy individu akan terganggu. Intipan di sana-sini akan dibuat untuk mencari orang yang berzina dan minum arak. Ini diburukkan lagi dengan gambaran perlaksanaan sekarang yang dilakukan oleh pihak penguatkuasa agama di sesetengah tempat apabila mereka seakan memasang ‘spy’ dalam mencari pelaku maksiat peribadi. Hal ini amat salah dan bercanggah dengan firman Allah dalam Surah al-Hujurat ayat 12: (maksudnya)
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip mencari-cari kesalahan orang..”
Dr Yusuf al-Qaradawi menyebut:
“Aku ingin agar diberikan perhatian tentang perkara yang penting mengenai hudud; bahawa Islam tidak terkejar-kejar mencari bukti, tidak mengintai untuk melaksanakan hukum ke atas pelaku kesalahan, tidak mencipta alat untuk mencari rahsia pelaku maksiat atau memasang kamera tersembunyi mengambil gambar ketika mereka melakukan jenayah. Tidak pula menguatkuasakan polis pencari jenayah atau perisik untuk mengintip mereka yang menyanggahi syarak sehingga ditanggap yang terbabit. Bahkan kita dapati panduan Islam dalam hal ini tegas setegas-tegasnya dalam memelihara kehormatan peribadi manusia, pengharaman tajassus (mengintip) dan mencari keaiban manusia. Tidak boleh dilakukan oleh individu, tidak juga oleh pihak kerajaan”. (http://www.qaradawi.net/library/53/2534.html.)
Kemudian beliau mengemukakan dalil riwayat al-Hakim daripada ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf :
“Bahawa dia berkawal bersama Umar bin al-Khattab r.ahuma pada suatu malam di Madinah. Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba ternampak nyalaan api di sebuah rumah. Mereka pun pergi menuju ke situ sehingga apabila hampiri didapati pintunya berkunci, di dalamnya ada sekumpulan orang dengan suara yang kuat.
Lalu Umar r.a. berkata -sambil memegang tangan ‘Abd ar-Rahman-: “Kau tahukah ini rumah siapa?”. Jawab: “Tidak”. Kata Umar: “Ini rumah Rabi’ah bin Umayyah bin Kalaf, mereka sekarang sedang mabuk arak, apa pendapat kau?”. Kata ‘Abd ar-Rahman: “Aku berpendapat kita sekarang telah melakukan apa yang Allah larang, Allah berfirman: “Jangan kamu mengintip”. Kita telah mengintip. Maka Umar pun pergi dan meninggalkan mereka”.( Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, dinilai sahih serta sokong oleh al-Zahabi).
Akibat dari amalan yang salah memberikan gambaran yang salah tentang hudud. Islam dalam urusan jenayah atau maksiat peribadi tidak membongkar yang tertutup, sebaliknya hanya mencegah yang nyata dan zahir sahaja. Seperti kata al-Imam al-Ghazali (meninggal 505H) :
“Hendaklah kemungkaran tersebut zahir (jelas) kepada ahli hisbah (pencegahan) tanpa perlu melakukan intipan. Sesiapa yang menutup sesuatu kemaksiatan di dalam rumahnya, dan mengunci pintunya maka tidak harus untuk kita mengintipnya. Allah Ta’ala telah melarang hal ini” (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, 3/28, Beirut: Dar al-Khair/1990).
Membina Masyarakat Yang Pemaaf
Dalam perlaksanaan hudud, pemerintah hendaklah mendidik rakyat agar mengelakkan sikap suka mengangkat kes hudud kepada pihak mahkamah atau berkuasa. Sebaliknya, hendaklah digalakkan kemaafan antara rakyat dan diselesaikan diluar mahkamah. Ini seperti hadis Nabi s.aw:
“Sesungguhnya pencuri pertama dalam Islam dibawa kepada Nabi s.a.w lalu diperintahkan agar dipotong tangan. Wajah Rasulullah s.a.w seakan kecewa sedih. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Seakan engkau membenci hal ini”. Jawab Nabi s.a.w: “Mengapa tidaknya aku benci, kamu semua telah menjadi penolong syaitan menentang saudara kamu. Sesungguhnya tidak wajar bagi pemerintah yang diangkat kepadanya hukuman had melainkan dilaksanakan”.
Lalu baginda membaca firman Allah: “Hendaklah kamu maafkan dan lupakan kesalahan, tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? (Surah an-Nur: 22)” (Riwayat Ahmad dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Sahihah).
Keinginan sesetengah masyarakat awam yang tidak faham yang seakan ‘mengidam’ untuk melihat tangan dipotong adalah tidak serasi dengan inspirasi hudud bahkan itu menjadikan mereka ‘penolong syaitan’.
Hudud Memerlukan Ijtihad Baru
Tiada siapa yang mukmin menafikan kewujudan nas-nas hudud dalam al-Quran dan as-Sunnah. Cumanya, perincian hudud itu memerlukan ijtihad yang mengambil kira soal perubahan zaman dan tempat. Umpamanya kadar barang curian memerlukan ijtihad yang baru kerana fuhaqa sejak dahulu berbeza dalam hal ini. Cara potongan; penggunaan alatan moden dan ubatan moden juga perlu diambil perhatian atas sifat ihsan Islam dalam semua perkataan. Demikian juga suasana masyarakat juga hendaklah diambil kira.
Demikian ruangan taubat dalam hudud juga hendaklah diluaskan dengan memakai mazhab yang luas dalam hal ini. Mereka yang bertaubat sebelum tangkapan patut digugurkan hukuman hudud dan boleh diganti dengan takzir (discretionary punishment).

Thursday, 22 November 2012

Kisah Imam Syafie Menuntut Ilmu



Imam Shafie merupakan salah seorang Imam Mazhab yang empat. Beliau mempunyai ketajaman akal dan kecerdikan yang luar biasa. Beliau telah menghafaz al-Quran seawal umur 9 tahun lagi. Setahun kemudian pula, beliau menghafal kitab al-Muwatta’ karangan Imam Malik. Beliau merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu. Lantaran itu, pada satu hari beliau meminta izin daripada ibunya untuk keluar menuntut ilmu ke Madinah. Ia merupakan kali pertama Imam Shafie keluar daripada tempat kelahirannya, Makkah dan mengembara untuk meluaskan ilmu.

Apabila tiba di Madinah, beliau terus menuju ke Masjid Nabawi dan menunaikan solat sunat dua rakaat. Setelah selesai solat, beliau terpandang satu Majlis ilmu yang disampaikan oleh seseorang yang sangat hebat dalam masjid tersebut. Orang tersebut sedang bersyarah di hadapan begitu ramai anak-anak muda yang kesemuanya khusyuk mendengarnya. Orang itu ialah Imam Malik yang sedang mengajar murid-muridnya tentang hadis-hadis Rasulullah s.a.w. Dengan langkah yang tertib, Imam Shafie terus menuju ke tempat Imam Malik dan duduk bersama murid-murid beliau. Imam Shafie lantas mengambil sebatang lidi lalu membasahkannya dengan air liur. Beliau menulis segala apa yang diajar oleh Imam Malik tersebut di atas tapak tangannya. Tanpa di sedari, Imam Malik memerhati segala tingkah lakunya.

Selesai pengajian, Imam Malik pun memanggil Imam Shafie untuk menegur beliau. Sangkanya Imam Shafie berbuat perkara kurang sopan ketika belajar. Imam Malik bertanya kepada Imam Shafie, “Apakah kamu berasal dari Makkah”. Jawab Imam Shafie, “Benar”. Imam Malik kemudian bertanya, “Mengapakah engkau bermain-main dengan lidi dan air liurmu semasa aku sedang mengajar?”. Jawab Imam Shafie, “Maaf tuan. Sebenarnya saya tidak bermain-main. Oleh kerana saya tidak ada kertas dan pena, segala yang tuan ajar saya tulis di atas tapak tangan saya dengan menggunakan lidi dan air liur untuk saya menghafalnya”.


Apabila Imam Malik membelek-belek tangan Imam Shafie, beliau tidak menjumpai sebarang tulisan pun. Beliau terus berkata, “Tetapi kenapa tapak tangan engkau ni kosong sahaja”.

Kata Imam Shafie, “Benar tuan. Namun demikian tuan, saya telah pun menghafal semua hadis-hadis yang tuan riwayatkan itu”.


Setelah beliau disuruh membaca apa yang dihafalnya, Imam Malik mendapati tidak ada satu hadis yang tinggal daripada 20 hadis yang diajar hari itu. Perkara yang aneh ini belum pernah terjadi sebelumnya. Imam Malik begitu tertarik hati dengan kebijaksanaannya. Semenjak peristiwa itu, Imam Shafie dijemput untuk menetap di rumah Imam Malik sebagai tetamu sekali gus menuntut ilmu dengan Imam Malik. Selama 18 bulan Imam Shafie berguru dengan Imam Malik. Hatinya yang terang memudahkan beliau memahami dan menghafal kitab al-Muwatta’. Sehingga akhirnya, murid kesayangan Imam Malik ini sering diberi penghormatan bersyarah dan mengajar murid-murid yang lain.


Pengajaran:


1.Diperhatikan kehadiran Imam Shafie yang sedikit lewat dalam majlis ilmu Imam Malik telah sedikit sebanyak mengganggu perhatian Imam Malik untuk menyampaikan ilmu sepenuhnya. Lantaran itu, dalam menuntut ilmu
sebaik-baiknya biarlah berada di dalam majlis seawal mungkin dan tepat pada masanya kerana sesungguhnya ilmu itu ditunggu dan bukannya menunggu. Hal ini juga dapat mengelak daripada penyampai ilmu dan penerima ilmu yang berada dalam majlis merasa terganggu dengan keterlewatan kita itu.

2. Dalam majlis ilmu,
tumpuan perhatian yang sepenuhnya perlu diberikan kepada penyampaian ilmu. Apa sahaja perlakuan yang tidak berkaitan seharusnya dielakkan. Perlakuan Imam Shafie sahaja yang sedang mencatat isi pengajaran kuliah Imam Malik dengan menggunakan lidi dan air liur di atas tapak tangan pun sudah begitu mengganggu tumpuan Imam Malik untuk mengajar apatah lagi sekiranya ada anak-anak murid yang bercakap-cakap atau melakukan hal-hal lain yang tidak berkaitan semasa pengajaran.

3. Seorang pendidik yang baik akan mengenal
pasti kebolehan dan keistimewaan anak muridnya dalam mendidik, agar dengan itu proses pendidikan dapat dilakukan dengan tepat, sesuai dengan kebolehan dan keupayaan murid tersebut. Menyedari kemampuan dan keistimewaan Imam Shafie, Imam Malik terus mengajak Imam Shafie ke rumah beliau untuk terus dididik dan dipertajamkan kebolehannya sehingga akhirnya ilmu tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebaikan umat. 
Nasihat Imam Syafie

Imam al-Syafie tokoh ilmuan yang terkenal dengan ketekunan dalam menuntut ilmu, penegak sunnah, penegak kebenaran dan imam besar dalam bidang fekah. Beliau banyak meninggalkan kata-kata nasihat yang boleh dijadikan panduan kepada para pelajar. Antaranya ialah :

1. Imam al-Syafie pernah bersyair:

Aku mengadukan kepada Waki’ (guru beliau) tentang buruknya hafalan
Maka beliau membimbingku untuk meninggalkan perbuatan maksiat
Dan berkata, ‘Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat’
2.Beliau Berkata :

Barangsiapa ingin agar Allah membukakan hatinya atau meneranginya, maka dia harus meninggalkan pembicaraan yang tidak bermanfaat, meninggalkan dosa-dosa, menghindari perbuatan-perbuatan maksiat dan menyembunyikan amalan yang dikerjakan antara dia dan Allah. Jika dia mengerjakan hal tersebut, maka Allah akan membukakan ilmu baginya yang akan menyibukkan dia dari yang lainnya. Sesungguhnya dalam kematian terdapat perkara yang menyibukkan.”

Antara pengajaran yang boleh diambil daripada nasihat Imam al-Syafie ialah :

1. Menghindari maksiat kerana maksiat merupakan hijab atau penghalang untuk mendapat ilmu. Hati yang dicemari dengan dosa tidak akan dapat menyimpan ilmu yang bermanfaat.

2. Meninggalkan percakapan atau aktiviti-aktiviti yang sia-sia. Sesungguhnya masa itu amat berharga bagi seorang pelajar.

3. Melakukan amalan-alaman sunat secara tersembunyi dan tidak diketahui oleh sesiapapun. Ini antara cara untuk ikhlas dalam beramal soleh.

4. Orang yang mendapat bimbingan Allah sentiasa menghabiskan masanya dengan ilmu dan amalan yang berfaedah untuk dunia atau akhiratnya.

5. Orang yang berilmu juga hendaklah selalu mengingati mati kerana mati itu akan menyibukkan seseorang itu dengan perkara yang bermanfaat untuk kehidupannya selepas mati.

Sunday, 18 November 2012

JIKA RASULULLAH SAW MASIH ADA


Bayangkan apabila Rasulullah dengan izin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita.

Ketika itu Baginda datang dengan tersenyum dan muka yang berseri-seri di hadapan pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Mesti kita menjadi sangat terkejut, memeluknya erat-erat lantas mempersilakan baginda masuk ke ruang tamu. Kemudian kita tentunya akan meminta agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Tapi barangkali kita meminta Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu kerana teringat VCD 18+ atau lukisan wanita separuh bogel yang melekat di ruang tamu kita sehingga kita terpaksa memindahkan semuanya ke belakang dengan tergesa-gesa kemudian menggantikan khat nama Allah dan Muhammad yang tersimpan dalam almari dan kita meletakkannya di ruang tamu.

Apa agaknya Rasulullah katakan jika baginda tahu semua itu? Bagaimana pula jika Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita menjadi malu kerana tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah s.a.w, keluarga dan sahabatnya. Kita terpaksa menukar ruang tamu menjadi ruangan solat, malah segera mencari pakaian solat, kopiah, serban dan al-Quran. Manakala bagi anak isteri, kita terus belikan pakaian menutup aurat demi menutup malu selama ini kita berpakaian tidak menutup aurat .
Apa agaknya rasa Nabi dengan perlakuan dan lakonan kita itu? Belum lagi koleksi buku-buku, kaset dan karaoke kita. Ke mana kita harus menyingkirkan semua koleksi itu demi menghormati junjungan kita? Sudah tentu kita menjadi malu kerana kita tidak pernah ke masjid meskipun azan berkumandang. Kita juga pasti malu kerana pada waktu Maghrib keluarga kita masih sibuk di depan televisyen. Kita hanya menghabiskan hampir seluruh waktu untuk mencari kesenangan duniawi. Sudah tentu juga kita berasa malu kerana keluarga kita tidak pernah menunaikan solat sunat, sangat jarang membaca al-Quran dan tidak mengenal jiran tetangga kita.

Sudah tentu kita malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Justeru, bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Masihkah kita memeluk junjungan Nabi kita itu dan mempersilakan baginda masuk dan menginap di rumah kita? Atau akhirnya dengan berat hati, kita menolak kunjungan baginda kerana hal itu akan sangat membuat kita segan dan malu. Maafkan kami ya Rasulullah. Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah. Itu belum lagi kalau hendak kira cara kita mencari duit, membina keluarga, cara kita berpolitik, berniaga dan segala perlakuan kita yang bertentangan dengan sunnah Nabi Muhammad s.a.w. Layakkah kita bergelar umat Muhammad, dan layakkah kita mendapat syafaat Nabi di hari akhirat nanti?

MUTIARA KATA

I ) ILMU DAN HIKMAH

01. Saidina Ali Karamallhu Wajha
Ilmu yang tidak bermanfaat umpama ubat yang tidak menyembuhkan.

02. Saidina Ali Karamalluhu Wajha
Duduklah bersamadengan orang yang berakhlak mulia nescaya akan bertambah mulialah akhlakmu dan duduklah bersama para ulama, nescaya ilmumu akan bertambah.

03. Imam as-Syafie
Tiadalah keizzahan mereka yang tidak merasai ketaqwaan sebagai keizzahan.

04. Imam Ghazali
Sesiapa yang memiliki ilmu lalu memanfaatkannya dan memberi manfaat pada orang lain samalah seperti mentari yang menerangi dirinya dan orang lain,sedangkan ia ( mentari ) itu terus bersinar.

05. Luqman al-hakim
Diam itu merupakan hikmah,namun tidak ramai yang mempraktikkannya.

II ) MASA

01. Saidina Ali Karamullahu Wajha
Kehidupanmu adalah nafas-nafas ( detik-detik ) yang tertentu,apabila berlalu satu detik daripadanya nescaya telah berkuranglah satu juzuk ( daripada umurmu).

02. Saidian Ali Karramullahu Wajha
Janganlah dikau menangguhkan untuk melakukan sesuatu kebaikan hingga keesokkan hari ,kerana mungkin keesokkan hari yang mendatang kamu telah mati.

03. Saidina Ali Karramullahu Wajha
Hari ini ( di dunia ) adalah masa untuk beramal dan tidak ada hisab padanya,manakalah hari esok pula ( di akhirat ) adalah waktu perhitungan dan tidak ada peluang untuk beramal.

04. Saidina Abbas
Sebaik-baik perkara kebajikan adalah disegerakan

05.Imam Hasan al-Basri
Sesungguhnya kamu wahia manusia ibarat bilangan,apabila berlalu bagimu satu hari bererti telah berlalu sebahagian daripada kamu.

Saturday, 17 November 2012

10 GANGUAN SYAITAN KETIKA SOLAT

1. WAS-WAS SEMASA MELAKUKAN TAKBIRATUL IHRAM

Saat mulai membaca takbiratul ihram “Allahu Akbar” , ia ragu apakah takbir yang dilakukannya itu sudah sah atau belum sah.
Sehingga ada yang mengulanginya lagi dengan membaca takbir. Peristiwa itu terus menerus terulang, terkadang sampai imamnya hampir rukuk.
Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk tipu daya syaitan yang banyak menggangu mereka adalah was-was dalam bersuci (berwudhu) dan niat atau semasa takbiratul ihram dalam solat”.


2. TIDAK KHUSYUK SEMASA MEMBACA BACAAN DALAM SOLAT

Sahabat Rasulullah SAW Iaitu ‘Uthman bin Abil ‘Ash datang kepada Rasulullah dan mengadu,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya syaitan telah hadir dalam solatku dan membuat bacaanku salah”.Rasulullah SAW menjawab, “Itulah syaitan yang disebut dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah SWT. Aku pun melakukan hal itu dan Allah SWT menghilangkan gangguan itu dariku”. (HR. Muslim)


3. LUPA JUMLAH RAKAAT YANG TELAH DIKERJAKAN

Abu Hurairah r.a berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, “Jika salah seorang dari kalian solat, syaitan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang ia telah lakukan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) semasa masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam”. (HR Bukhari dan Muslim)


4. HADIRNYA FIKIRAN YANG MENGGANGU

Abu Hurairah r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dikumandangkan azan solat, syaitan akan berlari sambil terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar suara azan tersebut. Apabila muazin telah selesai azan, ia kembali lagi. Dan jika iqamah dikumandangkan ia berlari. Apabila telah selesai iqamah, dia kembali lagi. Ia akan selalu bersama orang yang solat seraya berkata kepadanya, ingatlah apa yang tadinya tidak kamu ingat! Sehingga orang tersebut tidak tahu berapa rakaat ia solat”. (HR Bukhari)


5. TERGESA-GESA UNTUK MENYELESAIKAN SHOLAT

Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya tergesa-gesa itu datangnya dari syaitan, karena tergesa-gesa adalah sifat gegabah, yang menghalangi seseorang untuk hati-hati, tenang dan santun serta meletakkan sesuatu pada tempatnya.”
Tentu saja bila solat dalam keadaan tergesa-gesa, maka cara pelaksanaannya asal boleh. Asal boleh mengerjakan, asal selesai dan asal jadi. Tidak ada ketenangan atau tukmaninah. Pada zaman Rasulullah SAW ada orang solat dengan tergesa-gesa. Akhirnya Rasulullah SAW memerintahkannya untuk mengulanginya lagi karena solat yang telah ia kerjakan belum sah.

Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Apabila kamu solat, bertakbirlah (takbiratul ihram). Lalu bacalah dari Al-Qur’an yang mudah bagimu, lalu rukuklah sampai kamu benar-benar rukuk, lalu bangkitlah dari rukuk sampai kamu tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud dan lakukanlah hal itu dalam setiap rakaat solatmu”. (HR Bukhari dan Muslim)


6. MELAKUKAN GERAKAN-GERAKAN YANG TIDAK PERLU

Dahulu ada seorang sahabat yang bermain kerikil ketika sedang tasyahud. Ia membolak-balikkannya. Melihat hal itu, maka Ibnu Umar segera menegurnya selepas solat: “Jangan bermain kerikil ketika solat kerana perbuatan tersebut berasal dari syaitan. Tapi kerjakan seperti apa yang dikerjakan Rasulullah SAW”. Orang tersebut bertanya, “Apa yang dilakukannya?” Kemudian Ibnu Umar meletakkan tangan kanannya diatas paha kanannya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat atau tempat sujud. “Demikianlah saya melihat apa yang dilakukan Rasulullah SAW”, kata Ibnu Umar. (HR Tirmidzi)


7. MELIHAT KE KANAN ATAU KE KIRI KETIKA SOLAT

Dengan sedar atau tidak, orang tersebut melihat ke kiri atau ke kanan, itulah akibat godaan syaitan penggoda. Kerana itu, setelah takbiratul ihram, pusatkan pandangan pada satu titik. Yaitu tempat sujud. Sehingga perhatian kita menjadi fokus dan tidak mudah dicuri oleh syaitan.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a, ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hukum melihat ketika solat”. Rasulullah SAW menjawab, “Itu adalah curian syaitan atas solat seorang hamba”. (HR Bukhari)


8. MENGUAP DAN MENGANTUK

Rasulullah SAW bersabda, “Menguap ketika solat itu dari syaitan. Oleh itu bila kalian ingin menguap maka tahanlah seboleh mungkin”. (HR Thabrani).


9. BERSIN BERULANG KALI SAAT SOLAT

Syaitan ingin menganggu kekhusyukan solat dengan bersin sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud, “Menguap dan bersin dalam solat itu dari syaitan” (Riwayat Thabrani). Ibnu Hajar mengulas kenyataan Ibnu Mas’ud, “Bersin yang tidak disenangi Allah SWT adalah yang terjadi dalam solat sedangkan bersin di luar solat itu tetap disenangi Allah SWT. Hal itu tidak lain karena syaitan memang ingin menggangu solat seseorang dengan berbagai cara”.


10. TERASA INGIN BUANG ANGIN ATAU BUANG AIR

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian bimbang atas apa yang dirasakan di perutnya apakah telah keluar sesuatu darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia yakin telah mendengar suara (keluarnya angin) atau mencium baunya”. (HR Muslim)

P/S ; Berbahagialah orang-orang muslim yang selama ini terbebas dari berbagai macam gangguan syaitan dalam solat. Semoga kita semua dibebaskan oleh Allah SWT dari gangguan-gangguan tersebut…..Aminnn